Saturday, July 4, 2009

Contoh Obat Kategori Off Label

Berikut ini ada beberapa obat-obat yang di indikasikan Off Label, yang berarti banyak diresepkan atau digunakan oleh dokter diluar indikasi yang sebenarnya. Meski bukan berdasar indikasi yang sebenarnya penggunaan obat-obat yang masuk dalam katagori ini berdasarkan pada pengalaman dokter dan hasil-hasil penelitian terbaru, namun regulator obat seperti FDA atau BPOM belum menyetujuinya.

(Dikutip dari: Obat Kategori Off label dalam aplikasi klinik, Suharyono, 2009)

Kombinasi ACEI dengan ARB meningkatkan Risiko gagal Ginjal

http://almitamipharma.com/images/micardis40.gif dan

Hasil riset terbaru The Ongoing Telmisartan Alone and in combination with Ramipril Global Endpoint Trial (ONTARGET) yang di publish di lancet tahun 2008, menunjukkan bahwa kombinasi antara Telmisartan obat golongan Angiotensin Receptor Blocker (ARB) dengan Ramipril, obat golongan Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) tidak menurunkan risiko penyakit kardiovaskular pada pasien hipertensi, padahal jika digunakan secara individual kedua obat ini menunjukkan efek kardio protektif. Lebih jauh lagi, kombinasi ini justru meningkatkan risiko munculnya gangguan pada ginjal dikarenakan efek hipotensi, diare dan hipokalemia.

Dokter diharapkan hanya menggunakan kombinasi kedua golongan obat ini jika memang dirasa sangat diperlukan, tentu saja dengan pengawasan atau monitoring pasien secara ketat.

Interaksi SSRI dengan Dekstrometorfan

http://www.medical-look.com/reviews/Luvox.jpg

Medsafe, regulator obat di new zeland mengingatkan akan interaksi potensial yang sangat mungkin terjadi antara SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) seperti fluoxetine, paroxetine, sertraline, fluvoxamine dan citalopram, yang merupakan obat antidepresan, dengan dekstrometorfan yang merupkan obat batuk kering. lembaga ini telah menerima laporan bahwa seorang pasien telah mengalami sebuah sindroma yang dinamakan Sindroma Serotonin, yaitu sebuah sindroma yang diakibatkan tinggiya kadar serotonin dalam darah dan otak, gejalanya ditandai dengan munculnya abnormalitas pada saraf pusat dan otonom serta pada otot. gejalanya antara lain: cemas, agitasi, keringat yang berlebihan, meningkatnya jumlah denyut jantung, sulit bergerak, termor dan meningkatnya tonus otot.

Risiko Angiodema dan Gagal ginjal akut terkait penggunaan Aliskiren


Aliskiren merupakan obat antihipertensi baru yang bekerja sebagai antagonist renin. hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh MHRA (Medicines and Healthcare products regulatory agency, BPOM-nya Inggris) menunjukkan bahwa aliskiren dengan nama dagang Rasilezt dan Tektruna dapat menyebabkan efek samping yang cukup berbahaya yaitu angiodema. Lembaga ini juga menyatakan bahwa penggunaan secara bersamaan antara aliskiren dengan obat-obat anti inflamasi non steroid (NSAID) dapat menyebabkan gagal ginjal akut. Risiko ini bertambah tinggi jika pasien mempunyai tendensi untuk mengalami gagal ginjal seperti pasien hipertensi dengan kondisi ginjal yang menurun, seperti pada pasien dengan dehidrasi dan usia lanjut atau pasien dengan Renal Artery Stenosis, Namun risiko ini dapat reversibel jika penggunaan obat dihentikan. Selain itu NSAID juga menurunkan efek antihipertensi dari aliskiren.

Tenaga kesehatan diharapkan tidak meresepkan aliskiren pada pasien hipertensi yang pengalaman mengalami angiodema setelah penggunaan obat ini sebelumnya. Sebisa mungkin hindari penggunaan obat ini bersama dengan NSAID, atau jika tidak memungkinkan harus dilakukan monitoring rutin pada status ginjal pasien.