Tuesday, July 7, 2009

Sekali lagi tentang keamanan Asetaminofen dan NSAID




Pada tanggal 29-30 juni 2009 FDA telah mengadakan symposium yang membahas tentang keamanan obat asetaminofen dan obat golongan nonsteroid antiinflamatory drugs (NSAID). Obat yang masuk dalam golongan ini seperti: Aspirin, Ibuprofen, Diklofenak, Piroksikam, Naproxen, dll. Semua obat tersebut banyak diresepkan atau di jual bebas dengan merk atau dengan label generik bertujuan untuk mengatasi demam, nyeri ringan hingga sedang dan radang/inflamasi.

Karena ketidaktahuan masyarakat mengenai bahaya obat ini dan tingginnya data yang toksisitas yang disebabkan oleh obat-obat ini-lah yang menyebabkan FDA mengambil inisiatif untuk mengadakan simposium tersebut.

Beberapa masalah kesehatan yang muncul dikarenakan penggunaan obat-obat ini secara tidak benar antara lain adalah: Kerusakan Liver yang menetap, Kerusakan Ginjal dan Nyeri hingga pendarahan lambung.

Hasil pertemuan tersebut merekomendasikan ke produsen obat untuk menambahkan laber peringatan akan munculnya efek samping kerusakan liver karena penggunaan asetaminofen.
selain itu juga beberapa rekomendasi ke konsumen yang intinya konsumen diharapkan untuk lebih hati-hati menggunakan produk yang berisi asetaminofen dan selalu membaca informasi dan peringatan yang tertera pada leaflet obat. Selain itu diharapkan pasien tidak menggunakan asetaminofen diluar dosis yang direkomendasikan dan tidak meminum alkohol selama menggunakan obat ini.

Monday, July 6, 2009

Obat berhenti Merokok: Zyban dan Chantix meningkatkan risiko bunuh diri


dan

Pada awal bulan Juli 2009 ini FDA telah mengumumkan untuk menambahkan label peringatan untuk 2 buah produk obat yang sering diresepkan sebagai obat berhenti merokok Chantix (Varenicline) dan Zyban (Buropion). Tambahan peringatan tersebut berupa peringatan bahwa kedua obat ini akan berpotensi tinggi menyebabkan gangguan kesehatan mental yang serius termasuk perubahan perilaku, depresi mood dan keinginan untuk bunuh diri. Peringatan serupa juga harus diberikan pada produk lain yang mengandung bupropion seperti Wellbutrin dan bupropion generik yang sering diresepkan sebagai antidepresi.

Varnecline bekerja dengan cara menghambat reseptor nikonik asetilkolin alfa 2 beta 4 di otak, sehingga orang yang merokok tidak akan merasakan nikmatnya rokok dan diharapkan dengan ini perokok tersebut dapat melupakan rokok dengan sedirinya. Bupropion merupakan obat antidepresi dengan mekanisme menghambat secara reversibel transporter noradrenergik dan dopamine di otak, namun mekanisme yang lebih jelas mengapa obat ini bisa digunakan untuk menyembukkan ketergantungan terhadap rokok masih belum banyak diketahui.

FDA juga menyebutkan sebaiknya para dokter dan farmasis juga melakukan monitoring pada pasien yang menggunakan kedua obat tersebut. Pasien juga dihimbau untuk segera melaporkan perasaan atau gejala gangguan mental yang dialaminya ke dokter atau farmasis setelah meminum obat ini.

Pada sebagian besar kasus gejala perubahan mental dan keinginan bunuh diri ini muncul dalam waktu singkat setelah memulai pengobatan dan akan hilang setelah pengobatan dihentikan, namun pada beberapa kasus, gejala ini bisa menetap meski pengobatan telah dihentikan.

Kedua obat ini juga tidak mengandung nikotin dalam sediaannya sehingga memungkinkan pasien akan mengalami gejala nikotin withdrawal seperti depresi, cemas, sensitif, gangguan tidur dan lain-lain. Oleh karena itu FDA juga menginstruksikan kepada produsen pembuat obat ini Pfizer dan GlaxoSmithKline untuk segera melakukan Clinical Trial untuk meneliti lebih jauh seberapa serius dan sering gejala ini muncul pada pasien yang menggunakan obat ini.

Zolinza, obat antikanker kulit dengan aktivitas HDAC inhibitor

Pada 6 oktober 2006, FDA telah menyetujui Zolinda (vorinostat) untuk pengobatan cutaneous T-cell lymphoma (CTCL), salah satu tipe dari kanker kulit, obat ini digunakan jika penyakit menetap dan malah memburuk, atau pengobatan dengan obat lain kurang membuahkan hasil.

Efektifitas dan keamanan Zolinda telah dibuktikan dalam clinical trial yang melibatkan 107 CTCL pasien yang penyakitnya muncul kembali setelah pengobatan dengan obat lain. 30 % pasein yang mengikuti clinical trial ini menunjukkan perbaikan dan efek obat klinis obat ini mampu bertahan selama 168 hari.

obat ini bekerja dengan cara menghambat enzim histon deasetilase (enzim yang bekerja dengan melepaskan gugus asetil dari histon) yang akhirya membuat struktur histon dan kromatin lebih terbuka dan lebih mudah untuk mengalami modifikasi.

Efek samping yang sering muncul pada penggunaan obat ini adalah diare, mual, muntah, anoreksia, konstipasi, sedangkan efek samping yang cukup berbahaya adalah emboli paru karena pembekuan darah, dehidrasi , anemia dan deep vein thrombosis. hingga saat ini zolinza belum pernah diujikan pada wanita hamil, tetapi penelitian pada hewan coba menunjukkan bahwa obat ini dapat berbahaya bagi bayi.


Sunday, July 5, 2009

Asam Zoledronat menyebabkan gangguan ginjal dan gagal ginjal akut



Asam Zolendronat, Obat golongan Bifosfonat yang dipasarkan dengan merek dagang Reclast dan Zometa telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sekali per tahun, melalui rute intravena, dalam pengobatan osteoporosis pada pasie pria dan wanita yang telah mengalami monopouse, Pasien dengan Paget's disease yang menyerang tulang dan pencegahan osteoporosis pada pasien yang mengunakan kronik glukoortikoid.

Hasil laporan terbaru menyebutkan bahwa penggunaan Reclast telah menyebabkan gangguan pada ginjal dan gagal ginjal akut. Oleh sebab itu beberapa yang perlu diperhatikan saat menggunakan obat ini adalah:
1. Sebaiknya obat ini tidak digunakan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (nilai klirens kreatitnin/ GFR < style="font-style: italic;">slow delivery infussion, kurang lebih selama 15 menit.
5. Monitoring fungsi ginjal selama 24 jam setelah penggunaan obat juga di rekomendasikan.

Insulin Glargine (Lantus) berpotensi menyebabkan kanker

Food and Drug Administration (FDA) pada situsnya, bulan juli 2009 ini mengingatkan para tenaga kesehatan untuk lebih teliti dan peduli pada pasien diabetes mellitus yang menggunakan pruduk insulin glargine (dengan merek dagang: lantus). Hasil 3 dari 4 buah penelitian independen terbaru menyebutkan bahwa pasien diabetes yang menggunakan lantus memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kanker. Meski demikian pasien diharapkan tidak dengan serta-merta berhenti menggunakan obat ini tanpa konsultasi dulu dengan dokter.

Hingga saat ini FDA telah mereview semua data terkait keamanan penggunaan lantus, termasuk data terbaru dan semua hasil Clinical Trial. Diharapkan pasien diabetes yang menggunakan produk ini untuk segera melaporkan apabila mengalami reaksi efek samping obat.

Saturday, July 4, 2009

Contoh Obat Kategori Off Label

Berikut ini ada beberapa obat-obat yang di indikasikan Off Label, yang berarti banyak diresepkan atau digunakan oleh dokter diluar indikasi yang sebenarnya. Meski bukan berdasar indikasi yang sebenarnya penggunaan obat-obat yang masuk dalam katagori ini berdasarkan pada pengalaman dokter dan hasil-hasil penelitian terbaru, namun regulator obat seperti FDA atau BPOM belum menyetujuinya.

(Dikutip dari: Obat Kategori Off label dalam aplikasi klinik, Suharyono, 2009)

Kombinasi ACEI dengan ARB meningkatkan Risiko gagal Ginjal

http://almitamipharma.com/images/micardis40.gif dan

Hasil riset terbaru The Ongoing Telmisartan Alone and in combination with Ramipril Global Endpoint Trial (ONTARGET) yang di publish di lancet tahun 2008, menunjukkan bahwa kombinasi antara Telmisartan obat golongan Angiotensin Receptor Blocker (ARB) dengan Ramipril, obat golongan Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) tidak menurunkan risiko penyakit kardiovaskular pada pasien hipertensi, padahal jika digunakan secara individual kedua obat ini menunjukkan efek kardio protektif. Lebih jauh lagi, kombinasi ini justru meningkatkan risiko munculnya gangguan pada ginjal dikarenakan efek hipotensi, diare dan hipokalemia.

Dokter diharapkan hanya menggunakan kombinasi kedua golongan obat ini jika memang dirasa sangat diperlukan, tentu saja dengan pengawasan atau monitoring pasien secara ketat.